Home / Opini / APA YANG TERJADI DI BENGKULU, TEST SWAB COVID ATAU SWAB POLITIK

APA YANG TERJADI DI BENGKULU, TEST SWAB COVID ATAU SWAB POLITIK

Oleh ERNEL QORAZON PAGUCI DAN JAYA KELANA.

 

Menanggapi pemberitaan hasil test SWAB penderita covid 19 yang ditujukan kepada pasangan calon Gubernur Helmi Hasan dan Bpk Muslihan DS. Pemberitaan tersebut langsung dibenarkan oleh calon Gubernur incumbent Sdr DR. Rohidin Mersyah, dan setelah itu para wartawan langsung mendapatkan konfirmasi ulang dari RSUD M.Yunus membenarkan pernyataan Gubernur tersebut.

Setelah berita tentang calon saingan pilgub ini dicuitkan secara sengaja di berbagai media dan menjadi viral, calon pasangan yang dituduh ini langsung memeriksakan dirinya untuk ditest SWAB ulang di Jakarta dan hasilnya ternyata Negative. Pasangan calon lawan incumbent ini terbukti tidak menderita penyakit covid 19 yang dituduhkan tersebut.

Rakyat bertanya ada apa ini sebenarnya, apakah strategi ini disengaja digunakan untuk mengalahkan lawan. Dengan diviralkan pemberitaan bahwa Helmi  dan Muslihan kena covid 19, pasangan ini akan dianggap tidak layak dimenangkan dalam Pilgub mendatang, bahkan harus dianggap tidak layak untuk mendaftar menjadi calon Gubernur Bengkulu. Tentu yang bisa menjawab ini adalah pihak-pihak yang memviralkan pemberitaannya. Berita yang belum tentu benar bahkan mungkin tidak benar sudah disampaikan secara luas di media massa tanpa memperlihatkan hasil uji swab pasangan yang diduga. Kelihatannya calon incumbent ini menggunakan metoda disinformation untuk mencapai tujuan, menghalalkan segala cara hebat bukan ?

Kenapa rakyat kembali bertanya tentang hal ini, karena peristiwa serupa sudah pernah pada terjadi tanggal 31 Maret tahun 2020, Pak Gubernur mulai melancarkan aksi pertamanya terhadap calon lawan dalam Pilgub Bengkulu sdr Helmi Hasan.  Sdr DR Rohidin Mersyah memerintahkan aparat kepolisian untuk mengusir keluar semua anggota majelis Tabligh yang berada di Propinsi Bengkulu harus dipulangkan kedaerah asalnya. Pengusiran ini diviralkan keseluruh pelosok tanah air disebabkan meninggalnya salah seorang anggota Jemaah Tabligh yang sedang berada di masjid At Taqwa Kota Bengkulu bernisial NH umur 54 tahun katanya berasal dari Lampung Selatan walaupun setelah diteliti ternyata ybs berasal dari kota Bandar Lampung. Atas kesaksian teman yang merawatnya, ybs meninggal bukan karena covid 19. Terbukti tidak satupun teman dan para perawatnya tertular. Keluarganya  datang seminggu kemudian mayat diangkat dan diperiksa ulang ternyata tidak meninggal karena covid 19. Mayat tersebut akhirnya dibawa pulang keluarganya dan dimakamkan selayaknya orang meninggal karena sakit di Tj Karang.

Akibat gegap gempitanya pemberitaan bahwa di Kota Bengkulu sudah ada yang meninggal karena covid 19, Kota Bengkulu berubah sekaligus dari zona hijau menjadi zona merah, hebat bukan?. Mesjid At Taqwa Kota Bengkulu ditutup dari kegiatan peribadatan. Selama 14 hari semua anggota majelis tabligh tidak boleh keluar dari masjid dan masyarakat tidak boleh beribadat di Mesjid At Taqwa. Setelah dilakukakan test ulang Covid 19 terhadap anggota majelis tabligh yang diisolasi disana ternyata tidak satupun diantara mereka terdampak covid 19, baru kegiatan peribatan kembali dilakukan masyarakat.

Kemungkinan lain yang terjadi sebenarnya adalah peralatan test covid dan test SWAB di Dinas kesehatan Kota dan provinsi Bengkulu yang jadi penyebab. Namun jika ditemukan kesalahan alat dan petugas peneliti tidak seharusnya Gubernur mengambil kesempatan untuk menjatuhkan lawan dengan cara yang justru membuat rakyat tahu apa tujuan akhirnya.

Penulis merupakan Kader DPD PAN Kota Bengkulu

 

 

Baca Juga

“Andai Aku Jadi Gubernur”

Oleh : Yudha Baros, *Pengumpul Uang Receh Dunia sedang dilanda musibah mewabahnya virus Covid 19, …